Rabu, 29 Februari 2012

Dasar-dasar Komunikasi

Pada dasarnya, setiap orang memerlukan komunikasi sebagai salah satu alat bantu dalam kelancaran bekerja sama dengan orang lain dalam bidang apapun. Komunikasi berbicara tentang cara menyampaikan dan menerima pikiran-pikiran, informasi, perasaan, dan bahkan emosi seseorang, sampai pada titik tercapainya pengertian yang
sama antara penyampai pesan dan penerima pesan.

Secara umum, definisi komunikasi adalah “Sebuah proses penyampaian pikiran-pikiran atau informasi dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi”. (Komaruddin, 1994; Schermerhorn, Hunt & Osborn, 1994; Koontz & Weihrich, 1988)

Aplikasi definisi komunikasi dalam interaksi antara dokter dan pasien di tempat praktik diartikan tercapainya pengertian dan kesepakatan yang dibangun dokter bersama pasien pada setiap langkah penyelesaian masalah pasien.

Untuk sampai pada tahap tersebut, diperlukan berbagai pemahaman seperti pemanfaatan jenis komunikasi (lisan, tulisan/verbal, non-verbal), menjadi pendengar yang baik (active listener), adanya penghambat proses komunikasi (noise), pemilihan alat penyampai pikiran atau informasi yang tepat (channel), dan mengenal mengekspresikan perasaan dan emosi.

Selanjutnya definisi tersebut menjadi dasar model proses komunikasi yang berfokus pada pengirim pikiran-pikiran atau informasi (sender/source), saluran yang dipakai (channel) untuk menyampaikan pikiran-pikiran atau informasi, dan penerima pikiranpikiran atau informasi (receiver). Model tersebut juga akan mengilustrasikan adanya penghambat pikiran-pikiran atau informasi sampai ke penerima (noise), dan umpan balik (feedback) yang memfasilitasi kelancaran komunikasi itu sendiri. Sender, channel, receiver, noise, dan feedback akan dibahas pada subbab berikut.

Terapi Warna: Sebuah Panduan Dasar untuk Menempatkan Warna dalam Kesehatan Anda

Apakah Anda menderita ketegangan syaraf, maag, gangguan seksual, demam,pilek, atau bahkan kanker? Pertimbangkan terapi warna. Sore ini adalah waktu yang ideal untuk mulai menempatkan ketegangan Anda pergi, dengan meningkatkan lingkungan Anda dengan warna hijau. Hijau lembut meredakanketegangan dan agak tenang tubuh. Ini memperkuat penglihatan. Menjadi sangatobat dan depresi, hijau sangat membantu dalam pengobatan kondisi peradangan.Bagaimana dapat yakin untuk mendapatkan manfaat dari hijau. Salah satu metodeterapi warna adalah sederhana: Hanya pastikan untuk makan makanan hijau.Makan salah satu sayuran hijau dan buah-buahan seperti labu, bayam, pisang, selada, kacang polong, mangga gooseberry, hijau, pir, dan kacang.

Minggu, 26 Februari 2012

Perlunya Komunikasi yang Efektif Antara Dokter-Pasien

Dalam profesi kedokteran, komunikasi dokter-pasien merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai dokter. Kompetensi komunikasi menentukan keberhasilan dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan pasien. Selama ini kompetensi komunikasi dapat dikatakan terabaikan, baik dalam pendidikan maupun dalam praktik kedokteran/kedokteran gigi.
Di Indonesia, sebagian dokter merasa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya bertanya seperlunya. Akibatnya, dokter bisa saja tidak mendapatkan keterangan yang cukup untuk menegakkan diagnosis dan menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut. Dari sisi pasien, umumnya pasien merasa dalam posisi lebih rendah di hadapan dokter (superior-inferior), sehingga takut bertanya dan bercerita atau hanya menjawab sesuai pertanyaan dokter saja.
Tidak mudah bagi dokter untuk menggali keterangan dari pasien karena memang tidak bisa diperoleh begitu saja. Perlu dibangun hubungan saling percaya yang dilandasi keterbukaan, kejujuran dan pengertian akan kebutuhan, harapan, maupun kepentingan masing-masing. Dengan terbangunnya hubungan saling percaya, pasien akan memberikan keterangan yang benar dan lengkap sehingga dapat membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit pasien secara baik dan memberi obat yang tepat bagi pasien.
Komunikasi yang baik dan berlangsung dalam kedudukan setara (tidak superior-inferior) sangat diperlukan agar pasien mau/dapat menceritakan sakit/keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas. Komunikasi efektif mampu mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan selanjutnya, sedangkan komunikasi tidak efektif akan mengundang masalah.
Berikut ini adalah beberapa contoh hasil komunikasi antara dokter-pasien.
Contoh Hasil Komunikasi Efektif:
  • Pasien merasa dokter menjelaskan keadaannya sesuai tujuannya berobat. Berdasarkan pengetahuannya tentang kondisi kesehatannya, pasien pun mengerti anjuran dokter, misalnya perlu mengatur diet, minum atau menggunakan obat secara teratur, melakukan pemeriksaan (laboratorium, foto/rontgen, scan) dan memeriksakan diri sesuai jadwal, memperhatikan kegiatan (menghindari kerja berat, istirahat cukup, dan sebagainya).
  • Pasien memahami dampak yang menjadi konsekuensi dari penyakit yang dideritanya (membatasi diri, biaya pengobatan), sesuai penjelasan dokter.
  • Pasien merasa dokter mendengarkan keluhannya dan mau memahami keterbatasan kemampuannya lalu bersama mencari alternatif sesuai kondisi dan situasinya, dengan segala konsekuensinya.
  • Pasien mau bekerja sama dengan dokter dalam menjalankan semua upaya pengobatan/perawatan kesehatannya.
Contoh Hasil Komunikasi Tidak Efektif:
  • Pasien tetap tidak mengerti keadaannya karena dokter tidak menjelaskan, hanyamengambil anamnesis atau sesekali bertanya, singkat dan mencatat seperlunya,melakukan pemeriksaan, menulis resep, memesankan untuk kembali, ataumemeriksakan ke laboratorium/foto rontgen, dan sebagainya.
  • Pasien merasa dokter tidak memberinya kesempatan untuk bicara, padahal ia yang merasakan adanya perubahan di dalam tubuhnya yang tidak ia mengerti dan karenanya ia pergi ke dokter. Ia merasa usahanya sia-sia karena sepulang dari dokter ia tetap tidak tahu apa-apa, hanya mendapat resep saja.
  • Pasien merasa tidak dipahami dan diperlakukan semata sebagai objek, bukan sebagai subjek yang memiliki tubuh yang sedang sakit.
  • Pasien ragu, apakah ia harus mematuhi anjuran dokter atau tidak.
  • Pasien memutuskan untuk pergi ke dokter lain.
  • Pasien memutuskan untuk pergi ke pengobatan alternatif atau komplementer atau menyembuhkan sendiri (self therapy).

Kamis, 02 Februari 2012

Kenali Masalah dengan Pengobatan Konvensional, contoh Tonsilitis

Perlakuan dari tonsilitis di garis sistem medis modern dengan cara melukis dan penyemprotan bersifat berbahaya dan penekan. Ini tidak membantu untuk membersihkan sistem dari racun, yang merupakan akar masalah. Bahkanmemaksa racun ini kembali ke dalam sistem, yang dapat menyebabkan masalahlebih serius di kemudian hari. Cara yang benar untuk mengobati penyakit adalah untuk membersihkan sistem limbah beracun melalui metode alami diet yang tepatdan lainnya.
Untuk mulai dengan, pasien wajib berpuasa selama tiga sampai lima hari pada saat mana gejala serius akan meredaApa-apa selain air dan jus jeruk harus diambil selama waktu ini. Perut harus dibersihkan setiap hari dengan enema air hangat selama periode puasa. Satu pak dingin harus diterapkan padatenggorokan pada dua jam selang siang hari. Prosedur ini untuk memerasbeberapa bahan linen dalam air dingin, bungkus dua atau tiga kali di sekitartenggorokan dan menutupinya dengan beberapa flannelling.
Tenggorokan dapat berkumur beberapa kali sehari dengan air jeruk lemon rapi.Kumur terbuat dari biji fenugreek sangat efektif pada kasus berat. Untuk membuat seperti kumur, dua sendok makan biji fenugreek harus dibiarkan mendidih dengan api kecil selama setengah jam dalam satu liter air dan kemudian sisihkan hingga dingin. Jumlah keseluruhan harus digunakan sebagai obat kumur menenangkandalam satu hari dengan hasil yang menguntungkan.

Kamis, 19 Januari 2012

Kiat Menyampaikan Informasi dalam Komunikasi Efektif Dokter-Pasien

Komunikasi yang dibahas di sini adalah komunikasi yang terjadi antara dokter dan pasien di ruang praktik perorangan, poliklinik, rumah sakit, puskesmas dalam rangka menyelesaikan masalah kesehatan pasien yang bukan dalam keadaan gawat darurat (emergency).
• Tanyakan, apakah ada yang dikhawatirkannya.
• Gunakan bahasa yang mudah dimengerti, sesuai tingkat pemahamannya (usia, latar belakang pendidikan, sosial budaya)
• Tidak dianjurkan memakai bahasa atau menggunakan istilah kedokteran. Kalaupun harus menggunakannya, beri penjelasan dan padanan katanya (kalau memang ada).
• Tidak perlu tergesa-gesa dan sekaligus, pemberian informasi bisa dilakukan secara bertahap.
• Jika menyampaikan berita buruk, gunakan kata atau kalimat persiapan atau pendahuluan, misalnya, “Boleh saya minta waktu untuk menyampaikan sesuatu?” untuk melihat apakah dia (yang diajak berkomunikasi) siap mendengar berita tersebut.
• Hindari memakai kata-kata yang bersifat mengancam, seperti “Kalau tidak melakukan anjuran saya, kalau ada apa-apa jangan datang ke saya”.
• Gunakan kata atau kalimat yang menimbulkan semangat atau meyakinkannya.
• Ulangi pesan yang penting.
• Pastikan pasien/keluarga mengerti apa yang disampaikan.
• Menanggapi reaksi psikologis yang ada, terlihat dari ucapan atau sikap dan dengan empati. ”Saya dapat mengerti jika ibu khawatir”.
• Menyimpulkan apa yang telah disampaikan.
• Beri kesempatan pasien/keluarga untuk bertanya, jangan memonopoli pembicaraan.
• Berikan nomor telpon yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu diperlukan.

Rabu, 18 Januari 2012

Pengendalian Tekanan Darah

Mekanisme dalam tubuh yang menjaga tekanan darah dalam batas-batas normal prinsipnya terutama mengatur volume plasma, "cardiac output"  dan resistensi perifer dalam batas keseimbangan.
Mekanisme tersebut bisa secara:
  1. Hormonal berupa pelepasan katekolamin---sistem renin---angiotensin---aldosteron.
  2. Neurogen berupa aktifitas susunan saraf otonom terutama susunan saraf simpatis.
Gangguan mekanisme-mekanisme tersebut dapat menyebabkan hipotensi maupun hipertensi.


Senin, 16 Januari 2012

Hipertensi - Tekanan Darah Tinggi

Definisi yang tepat mengenai hipertensi masih merupakan persoalan. Inti persoalannya adalah mengenai titik normal dari tekanan darah. Batas 140/90 mmHg jelas masih merupakan tanda tanya. Misal seorang laki-laki berumur 20 tahun dengan tekanan darah 135/85 mmHg sebaiknya harus dianggap sebagai hipertensi, sedangkan seorang berumur 70 tahun asimptomatik dengan tekanan darah 160/95 mmHg mungkin tak perlu diperiksa lebih jauh.
Terhadap penderita hipertensi bukanlah hanya persoalan memberikan resep saja pada penderita, akan tetapi memilih obat yang tepat dengan memikirkan efek samping, komplikasi yang telah terjadi dan menyingkirkan kontraindikasi memerlukan strategi pengobata yang teliti. Respon penderita terhadap obat-obat antihipertensi bersifat individual.
Hipertensi dapat dibagi dalam kategori:
  1. Mild hypertension               : tekanan diastol        90-110 mmHg
  2. Moderate hypertension       : tekanan diastol        110-130 mmHg
  3. Severe hypertension            : tekanan diastol lebih dari 130 mmHg
Tujuan pengaobatan  hipertensi yaitu,
  1. Menurunkan tekanan darah sampai normal atau mendekati normal, tanpa mengganggu aktifitas keseharian. Dengan demikian dapat menurunkan komplikasi dan menurunkan morbiditas dan mortalitas.
  2. Prevensi terhadap peninggian tekanan darah dan "heart rate" secara akut selama "exercise" dan "stess".
Umumnya sebagian besar penderita hipertensi dapat diberikan terapi dengan obat jalan, kecuali pada keadaan-keadaan tertentu, seperti:
  • penderita yang tekanan darahnya sukar terkontrol;
  • penderita yang mengalami komplikasi dan memerlukan tindakan segera sperti "hypertensive encephalopathy", hipertensi maligna dan lain-lain;
  • untuk keperluan evaluasi
Hipertensi dengan komplikasi selalu memerlukan obat-obat antihipertensi, sedangkan hipertensi tanpa komplikasi dilakukan terapi sedini mungkin sehingga diharapkan komplikasi ateroskelrosis dapat dicegah.

Pada orang tua proses sklerosis menyebabkan terjadinya hipertensi sistolik. Pada umumnya tidak diberikan terapi bila tidak menunjukkan adanya insufisiensi jantung atau otak. Respon terhadap terapi umumnya kurang baik.